Jumat, 27 Maret 2020

Falsafah Pelatih
Falsafah adalah, suatu sistem dari prinsip-prinsip yang dipakai untuk membimbing orang dalam berkegiatan. ”a system of principles for guidance in pratical affairs”(Martin dan Lumsden : 1987)
Falsafah seseorang tercermin dalam pandangannya tentang dunia, tentang situasi sekitarnya, tentang hubungan antar manusia, serta tentang nilai-nilai yang diberikannya untuk itu semua. Karena itu seseorang yang misalnya menilai bahwa mengumpulkan kekayaan lebih penting dari pada mencari hubungan yang mesra dengan sesamanya, semua kegiatannya, polahnya, kiprahnya, akan mencerminkan falsafahnya tersebut. “ That which a person believes and his reactions to the world about him reflects his philosophy of life”. (Klaffs dan Arnheim : 1963).
Jika seseorang bicara mengenai falsfah pelatihan, maka ia sedang membicarakan suatu perangkat sikap (attitudes) atau prinsip-prinsip dasar yang menuntun tabiat dan prilaku pelatih di dalam situasi-situasi praktek. Falsafah seorang pelatih dapat diketauhi dengan mengobservasi prilaku para atletnya, seperti halnya gaya permainan atletnya, rasa hormat (respect ) yang doperlihatkan kepada para official dan lawan-lawannya, bahasa yang digunakannya, prilaku di luar lapangan, kesanggupan untuk mengatasi stres-stres pertandingan, semangat bertandingnya, kesetiaan terhadap teman dan timnya, staminanya pada akhir pertandingan, sampai pada kostum latihan dan pertandingannya, Itu semua merupakan sebagian dari indikator-indikator yang mencerminkan falsafah pelatihnya.

II.2. Model Kepemimpinan
Di dalam literatur ilmiah mengenai kepemimpinan, batasan yang sering dipakai adalah bahwa ”seorang pemimpin adalah seseorang yang mampu menanamkan pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan anggota-anggota lain dalam kelompoknya”. Adanya kepemimpinan ditentukan oleh sedikitnya tiga kondisi sosial, yaitu (1) adanya suatu kumpulan oarang yang terdiri dari dua atau lebih, (2) adanya tugas yang sama, dan (3) adanya tanggung jawab yang berbeda. Atas dasar ketiga kondisi sosila tersebut Stogdill memberikan batasan bahwa kepemimpinan adalah ”the process of influencing the activities of an organized group in is offorts toword goal setting and goal achieventment”. (Cox : 1985)
Dalam dunia olahraga dapat kita amati bahwa, meskipun banyak gaya kepemimpinan yang berbeda, banyak pelatih yang ternyata sukses dalam pembinaannya dengan gayanya masing-masing. Akan tetapi sukses tidaknya kepemimpinannya tidak ditentukan oleh suatu gaya tertentu saja. Ppada umumnya ada empat jenis gaya kepemimpinan yang standard an yang dianut oleh para pelatih, yaitu :
    1. gaya authoritarian (otokratis,otoriter)
    2. gaya demokratis
    3. gaya yang lebih memperhatikan anak didik/atlet (people centered)
    4. gaya yang lebih menekankan pada tugas (task oriented)

II.3. Menetapkan Sasaran
Seringkali suatu tim atau atlet tidak berlatih dengan sungguh-sungguh, atau kurang motivasinya untuk berlatih disebabkan karena tidak ada tujuan atau sasaran yang jelas untuk apa tim atau atlet itu berlatih. Hal ini juga sering kali juga disebabkan oleh para pelatih sendiri yang tidak secra jelas menerangkan kepada para atlet tujuan dari latihan yang diberikan, kemana para atlet akan dibawa, dan apa yang diharapkan pada akhir latihannya.
Atlet akan meras berkewajiban dan terikat untuk mencapai sasaran tersebut. Hal ini biasanya akan dengan sendirinya menumbuhkan kesadaran, kepercayaan, dan empati (penjiwaan) yang lebih besar pada diri atlet. Apalagi kalu adanya sasaran-sasaran yang ditetapkan tersebut berhasil atau mampu dicapainya, atlet akan memperoleh suatu kebanggaan tersendiri sehiongga dorongan untuk mencapai sasaran yang lebih tinggi menjadi lebih besar dan memang seperti yang diungkapkan oleh Fixx (1985)..”for motivation, you can’t let your self get setisfied, you have to keep raising your goals”.


II.4. Prinsip-Prinsip Latihan
II.4.1. Training
Training adalah proses yang sistematis dari berlatih atau bekerja, yang di lakukan secara berulang-ulang, dengan kian hari kian menambah jumlah beban latihan atau pekerjaannya. (Harsono : 1982)
Yang dimaksud dengan sistematis adalah, berencana, menurut jadwal, menurut pola dan sistem tertentu, metodis, dari mudah ke sukar, latihan yang teratur, dari yang sederhana ke yang lebih komopleks. Berulang-ulang maksudnya adalah agar gerakan-gerakan yang semula sukar dilakukan sehingga semakin menghemat energi.kian hari maksudnya adalah setiap kali, secara periodik, segera telah tiba saatnya untuk ditambah bebannya, jadi bukan berati setiap hari.

II.4.2. Intensitas Latihan
Intensitas latihan dapat diukur dengan berbagai cara. Yang paling mudah adalah dengan cara mengukur denyut jantung (Heart rate). Suatu teknik yang dapat dipakai untuk mengukur intensitas latihan adalah teknik yang dipakai Karvonen (1957) dengan rumus : THR = RHR+0,6 (MHR-RHR).
Perlu dicatat bahwa teknik pengukuran tersebut menunjukkan batas terendah dari intensitas latihan. Untuk atlit-atlit yang sudah terlatih, intensitasnya bisa ditentukan lebih tinggi. Untuk atlit-atlit cabang olahraga yang membutuhkan daya tahan tinggi, intensitas latihan bisa sampai mendekati maksimal, sehingga dengan demikian bukan kemampuan aerobiknya saja, akan tetapi kemampuan an aerobiknya pun terlatih.

II.4.3. Kualitas Latihan
Berlatih secara intensif saja belum cukup apabila latihan itu tidak berbobot, bermutu, dan berkualitas. Kualitas latihan yang diberikan pelatih kepada atlit, atlit haruslah merasakan bahwa apa yang diberikan oleh pelatih adalah memang berguna baginya, dan bahwa dengan itu dia telah belajar atau mengalami sesuatu yang baru. Kalau bukan dibidang fisik, teknik, atau taktik, dalam segi mental dia telah mendapatkan pengalaman yang baru dan telah dirasakannya sebagai sesuatu yang penting dan berguna ( Katch dan Mcardle : 1983).
Salah satu ciri yang membedakan seorang juara dengan bukan juara adalah caranya berlatih. Seorang juara sangat memperhatikan kelemahan-kelemahannya, sampai yang terkecil sekalipun untuk disempurnakan. Dan dia belum puas kalau kelemahan-kelemahannya itu belum sempurna diperbaiki walaupun untuk itu dia harus berlatih lama. Bebeda dengan seorang bukan juara yang mengira bahwa kualitas latihan dapat latihan mengatasi segala kekurangan dan kelemahan.
Dengan demikian latihan yang bermutu adalah apabila latihan dan driel-driel yang diberikan memang benar-bnar sesuai dengan kebutuhan atlit, apabila koreksi-koreksi yang kontruktif sering diberikan, dan apabila prinsip-prinsip Over load diterapkan, baik dalam segi fisik maupun mental atlit maka latihan-latihan yang kurang intensif akan tetapi bermutu, sering lebih berguna dari pada latihan yang intensif tetapi tidak bermutu.

II.4.4. Lama Latihan
Kekeliruan yang sering dilakukan oleh banyak pelatih adalah jika mereka lebih menekankan pada lamnya latihan daripada penambahan beban latihan. Waktu latihan sebaiknya pendek akan tetapi berisi dan padat dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Kecuali waktunya yang pendek, latihan juga harus dilakukan sesering mungkin. Setiap latihan tersebut harus dilakukan dengan usaha yang sebaik-baiknya dan kualitas atau mutu ynag tinggi. Dengan demikian kita harus pula memperhatikan. ”As soon as bead feature creep into the performance, that particular practice mustop”(Thomas : 1970). Artinya, segera nampak bahwa atlit mulai sering melakukan kesalahan-kesalahan, segera pula latihan harus segera dihentikan. Oleh karena kalau atlit berulang-ulang melakukan kesalahan yang sama maka hal ini akan mudah membentuk handicapping habits. Dan kita tahu pengalaman bahwa susahnya membetulkan kembali kebiasaan-kebiasaan yang salah dan buruk yang sudah melekat pada atlit
Apabila waktu latihan berlangsung lama dan terlalu melelahkan maka bahayanya adalah atlit akan memandang setiap latihan sebagai suatu siksaan dan sebaliknya suatu latihan-latihan yang pendek adalah akan terus membawah atlit dalam pola berpikir tentang latihannya, artinya segala sesuatu yang diberikan kepadanya akan dapat terus terpola dalam pikirannya. Oleh karena itu belum tentu seorang atlit enggan pergi katihan disebabkan dia malas. Sebagaimana pula belum tentu mahasiswa malas kuliah disebabkan karena dia memang pemalas. Mungkin saja disebabkan kuliah-kuliahnya tidak menarik.


II.4.5. Tes Uji Coba
Tes uji coba (Tes treal) adalah tes-tes atau pertandingan-pertandingan yang di jadwalkan sebelum pertandingan besar sebenarnya berlangsung. Pertandingan-pertandingan uji coba mengandung unsur-unsur dan potensi-potensi belajar yang sangat penting bagi atlit, artinya atlit akan banyak belajar dari pengalaman-pengalaman dalam pertandingan uji coba tersebut. Selain itu ketangguhan fisik dan mental yang sebenarnya akan nampak dan terungkap jelas dalam situasi-situasi pertandingan tersebut.
Hal yang sangat penting, dan sering kali lepas dari perhatian pelatih dan manajer tim adalah jadwal pertandingan-pertandingan uji coba harus disusun sedemikian rupa sehingga menjamin atlit untuk mencapai puncaknya pada saat yang tepat. Karena itu jadwal tes treal harus di susun secara cerdik jangan asal mengikuti pertandingan pada sembarang waktu. Perencanaan  yang kurang cerdik dan kurang intelegen sering kali justru mengacaukan penampilan optimal atlit-atlit pada pertandingan utamanya. Jadi kesimpulannya adalah antara jadwal latihan dan pertandingan harus ada keseimbangan  yang wajar. Seorang atlit tidak bisa dilatih sebanyak mungkin dan disuruh bertanding sebanyak mungkin pula. Sebaliknya atlit tidak bisa dilatih sebanyak mungkin tanpa sewaktu-waktu diberi kesempatan bertanding untuk menguji kemampuan diri sendiri dan untuk mengukur potensi-potensinya serta melihat hasil yang telah di capai dari progam latihan.

Kamis, 26 Maret 2020

Falsafah Pelatih
Falsafah adalah, suatu sistem dari prinsip-prinsip yang dipakai untuk membimbing orang dalam berkegiatan. ”a system of principles for guidance in pratical affairs”(Martin dan Lumsden : 1987)
Falsafah seseorang tercermin dalam pandangannya tentang dunia, tentang situasi sekitarnya, tentang hubungan antar manusia, serta tentang nilai-nilai yang diberikannya untuk itu semua. Karena itu seseorang yang misalnya menilai bahwa mengumpulkan kekayaan lebih penting dari pada mencari hubungan yang mesra dengan sesamanya, semua kegiatannya, polahnya, kiprahnya, akan mencerminkan falsafahnya tersebut. “ That which a person believes and his reactions to the world about him reflects his philosophy of life”. (Klaffs dan Arnheim : 1963).
Jika seseorang bicara mengenai falsfah pelatihan, maka ia sedang membicarakan suatu perangkat sikap (attitudes) atau prinsip-prinsip dasar yang menuntun tabiat dan prilaku pelatih di dalam situasi-situasi praktek. Falsafah seorang pelatih dapat diketauhi dengan mengobservasi prilaku para atletnya, seperti halnya gaya permainan atletnya, rasa hormat (respect ) yang doperlihatkan kepada para official dan lawan-lawannya, bahasa yang digunakannya, prilaku di luar lapangan, kesanggupan untuk mengatasi stres-stres pertandingan, semangat bertandingnya, kesetiaan terhadap teman dan timnya, staminanya pada akhir pertandingan, sampai pada kostum latihan dan pertandingannya, Itu semua merupakan sebagian dari indikator-indikator yang mencerminkan falsafah pelatihnya.

II.2. Model Kepemimpinan
Di dalam literatur ilmiah mengenai kepemimpinan, batasan yang sering dipakai adalah bahwa ”seorang pemimpin adalah seseorang yang mampu menanamkan pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan anggota-anggota lain dalam kelompoknya”. Adanya kepemimpinan ditentukan oleh sedikitnya tiga kondisi sosial, yaitu (1) adanya suatu kumpulan oarang yang terdiri dari dua atau lebih, (2) adanya tugas yang sama, dan (3) adanya tanggung jawab yang berbeda. Atas dasar ketiga kondisi sosila tersebut Stogdill memberikan batasan bahwa kepemimpinan adalah ”the process of influencing the activities of an organized group in is offorts toword goal setting and goal achieventment”. (Cox : 1985)
Dalam dunia olahraga dapat kita amati bahwa, meskipun banyak gaya kepemimpinan yang berbeda, banyak pelatih yang ternyata sukses dalam pembinaannya dengan gayanya masing-masing. Akan tetapi sukses tidaknya kepemimpinannya tidak ditentukan oleh suatu gaya tertentu saja. Ppada umumnya ada empat jenis gaya kepemimpinan yang standard an yang dianut oleh para pelatih, yaitu :
    1. gaya authoritarian (otokratis,otoriter)
    2. gaya demokratis
    3. gaya yang lebih memperhatikan anak didik/atlet (people centered)
    4. gaya yang lebih menekankan pada tugas (task oriented)

II.3. Menetapkan Sasaran
Seringkali suatu tim atau atlet tidak berlatih dengan sungguh-sungguh, atau kurang motivasinya untuk berlatih disebabkan karena tidak ada tujuan atau sasaran yang jelas untuk apa tim atau atlet itu berlatih. Hal ini juga sering kali juga disebabkan oleh para pelatih sendiri yang tidak secra jelas menerangkan kepada para atlet tujuan dari latihan yang diberikan, kemana para atlet akan dibawa, dan apa yang diharapkan pada akhir latihannya.
Atlet akan meras berkewajiban dan terikat untuk mencapai sasaran tersebut. Hal ini biasanya akan dengan sendirinya menumbuhkan kesadaran, kepercayaan, dan empati (penjiwaan) yang lebih besar pada diri atlet. Apalagi kalu adanya sasaran-sasaran yang ditetapkan tersebut berhasil atau mampu dicapainya, atlet akan memperoleh suatu kebanggaan tersendiri sehiongga dorongan untuk mencapai sasaran yang lebih tinggi menjadi lebih besar dan memang seperti yang diungkapkan oleh Fixx (1985)..”for motivation, you can’t let your self get setisfied, you have to keep raising your goals”.


II.4. Prinsip-Prinsip Latihan
II.4.1. Training
Training adalah proses yang sistematis dari berlatih atau bekerja, yang di lakukan secara berulang-ulang, dengan kian hari kian menambah jumlah beban latihan atau pekerjaannya. (Harsono : 1982)
Yang dimaksud dengan sistematis adalah, berencana, menurut jadwal, menurut pola dan sistem tertentu, metodis, dari mudah ke sukar, latihan yang teratur, dari yang sederhana ke yang lebih komopleks. Berulang-ulang maksudnya adalah agar gerakan-gerakan yang semula sukar dilakukan sehingga semakin menghemat energi.kian hari maksudnya adalah setiap kali, secara periodik, segera telah tiba saatnya untuk ditambah bebannya, jadi bukan berati setiap hari.

II.4.2. Intensitas Latihan
Intensitas latihan dapat diukur dengan berbagai cara. Yang paling mudah adalah dengan cara mengukur denyut jantung (Heart rate). Suatu teknik yang dapat dipakai untuk mengukur intensitas latihan adalah teknik yang dipakai Karvonen (1957) dengan rumus : THR = RHR+0,6 (MHR-RHR).
Perlu dicatat bahwa teknik pengukuran tersebut menunjukkan batas terendah dari intensitas latihan. Untuk atlit-atlit yang sudah terlatih, intensitasnya bisa ditentukan lebih tinggi. Untuk atlit-atlit cabang olahraga yang membutuhkan daya tahan tinggi, intensitas latihan bisa sampai mendekati maksimal, sehingga dengan demikian bukan kemampuan aerobiknya saja, akan tetapi kemampuan an aerobiknya pun terlatih.

II.4.3. Kualitas Latihan
Berlatih secara intensif saja belum cukup apabila latihan itu tidak berbobot, bermutu, dan berkualitas. Kualitas latihan yang diberikan pelatih kepada atlit, atlit haruslah merasakan bahwa apa yang diberikan oleh pelatih adalah memang berguna baginya, dan bahwa dengan itu dia telah belajar atau mengalami sesuatu yang baru. Kalau bukan dibidang fisik, teknik, atau taktik, dalam segi mental dia telah mendapatkan pengalaman yang baru dan telah dirasakannya sebagai sesuatu yang penting dan berguna ( Katch dan Mcardle : 1983).
Salah satu ciri yang membedakan seorang juara dengan bukan juara adalah caranya berlatih. Seorang juara sangat memperhatikan kelemahan-kelemahannya, sampai yang terkecil sekalipun untuk disempurnakan. Dan dia belum puas kalau kelemahan-kelemahannya itu belum sempurna diperbaiki walaupun untuk itu dia harus berlatih lama. Bebeda dengan seorang bukan juara yang mengira bahwa kualitas latihan dapat latihan mengatasi segala kekurangan dan kelemahan.
Dengan demikian latihan yang bermutu adalah apabila latihan dan driel-driel yang diberikan memang benar-bnar sesuai dengan kebutuhan atlit, apabila koreksi-koreksi yang kontruktif sering diberikan, dan apabila prinsip-prinsip Over load diterapkan, baik dalam segi fisik maupun mental atlit maka latihan-latihan yang kurang intensif akan tetapi bermutu, sering lebih berguna dari pada latihan yang intensif tetapi tidak bermutu.

II.4.4. Lama Latihan
Kekeliruan yang sering dilakukan oleh banyak pelatih adalah jika mereka lebih menekankan pada lamnya latihan daripada penambahan beban latihan. Waktu latihan sebaiknya pendek akan tetapi berisi dan padat dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Kecuali waktunya yang pendek, latihan juga harus dilakukan sesering mungkin. Setiap latihan tersebut harus dilakukan dengan usaha yang sebaik-baiknya dan kualitas atau mutu ynag tinggi. Dengan demikian kita harus pula memperhatikan. ”As soon as bead feature creep into the performance, that particular practice mustop”(Thomas : 1970). Artinya, segera nampak bahwa atlit mulai sering melakukan kesalahan-kesalahan, segera pula latihan harus segera dihentikan. Oleh karena kalau atlit berulang-ulang melakukan kesalahan yang sama maka hal ini akan mudah membentuk handicapping habits. Dan kita tahu pengalaman bahwa susahnya membetulkan kembali kebiasaan-kebiasaan yang salah dan buruk yang sudah melekat pada atlit
Apabila waktu latihan berlangsung lama dan terlalu melelahkan maka bahayanya adalah atlit akan memandang setiap latihan sebagai suatu siksaan dan sebaliknya suatu latihan-latihan yang pendek adalah akan terus membawah atlit dalam pola berpikir tentang latihannya, artinya segala sesuatu yang diberikan kepadanya akan dapat terus terpola dalam pikirannya. Oleh karena itu belum tentu seorang atlit enggan pergi katihan disebabkan dia malas. Sebagaimana pula belum tentu mahasiswa malas kuliah disebabkan karena dia memang pemalas. Mungkin saja disebabkan kuliah-kuliahnya tidak menarik.


II.4.5. Tes Uji Coba
Tes uji coba (Tes treal) adalah tes-tes atau pertandingan-pertandingan yang di jadwalkan sebelum pertandingan besar sebenarnya berlangsung. Pertandingan-pertandingan uji coba mengandung unsur-unsur dan potensi-potensi belajar yang sangat penting bagi atlit, artinya atlit akan banyak belajar dari pengalaman-pengalaman dalam pertandingan uji coba tersebut. Selain itu ketangguhan fisik dan mental yang sebenarnya akan nampak dan terungkap jelas dalam situasi-situasi pertandingan tersebut.
Hal yang sangat penting, dan sering kali lepas dari perhatian pelatih dan manajer tim adalah jadwal pertandingan-pertandingan uji coba harus disusun sedemikian rupa sehingga menjamin atlit untuk mencapai puncaknya pada saat yang tepat. Karena itu jadwal tes treal harus di susun secara cerdik jangan asal mengikuti pertandingan pada sembarang waktu. Perencanaan  yang kurang cerdik dan kurang intelegen sering kali justru mengacaukan penampilan optimal atlit-atlit pada pertandingan utamanya. Jadi kesimpulannya adalah antara jadwal latihan dan pertandingan harus ada keseimbangan  yang wajar. Seorang atlit tidak bisa dilatih sebanyak mungkin dan disuruh bertanding sebanyak mungkin pula. Sebaliknya atlit tidak bisa dilatih sebanyak mungkin tanpa sewaktu-waktu diberi kesempatan bertanding untuk menguji kemampuan diri sendiri dan untuk mengukur potensi-potensinya serta melihat hasil yang telah di capai dari progam latihan.

Selasa, 24 Maret 2020

Tugas dan sekaligus pengambilan nilai senam irama

Membuat video senam yang sudah di hapalkan dan dipelajari sejak awal semester lalu seperti yang bapak perintahkan per individu

Syarat penilaian
1. Minimal waktu 5 menit
2. Di video wajib hafal gerakan
3. Energic
4. Memakai pakaian yang sopan
5. Tugas di kirim ke email muhammadbunyamin67@gmail.com , sertakan nama lengkap dan kelas
6. Tugas paling lambat di kirim hari ini sampai pukul 19.00 wib.

Senin, 23 Maret 2020

Tugas dan sekaligus pengambilan nilai senam irama

Membuat video senam yang sudah di hapalkan dan dipelajari sejak awal semester lalu seperti yang bapak perintahkan per individu

Syarat penilaian
1. Minimal waktu 5 menit
2. Di video wajib hafal gerakan
3. Energic
4. Memakai pakaian yang sopan
5. Tugas di kirim ke email muhammadbunyamin67@gmail.com , sertakan nama lengkap dan kelas
6. Tugas paling lambat di kirim hari ini sampai pukul 19.00 wib.

Kamis, 19 Maret 2020

Tugas dan sekaligus pengambilan nilai senam irama

Membuat video senam yang sudah di hapalkan dan dipelajari sejak awal semester lalu seperti yang bapak perintahkan per individu

Syarat penilaian
1. Minimal waktu 5 menit
2. Di video wajib hafal gerakan
3. Energic
4. Memakai pakaian yang sopan
5. Tugas di kirim ke email muhammadbunyamin67@gmail.com , sertakan nama lengkap dan kelas
6. Tugas paling lambat di kirim hari ini sampai pukul 19.00 wib.

Rabu, 18 Maret 2020

Tugas dan sekaligus pengambilan nilai senam irama

Membuat video senam yang sudah di hapalkan dan dipelajari sejak awal semester lalu seperti yang bapak perintahkan per individu

Syarat penilaian
1. Minimal waktu 5 menit
2. Di video wajib hafal gerakan
3. Energic
4. Memakai pakaian yang sopan
5. Tugas di kirim ke email muhammadbunyamin67@gmail.com , sertakan nama lengkap dan kelas
6. Tugas paling lambat di kirim minggu dpn sesuai jadwal pelajaran Penjas .

Selasa, 17 Maret 2020

Tugas dan sekaligus pengambilan nilai senam irama

Membuat video senam yang sudah di hapalkan dan dipelajari sejak awal semester lalu seperti yang bapak perintahkan per individu

Syarat penilaian
1. Minimal waktu 5 menit
2. Di video wajib hafal gerakan
3. Energic
4. Memakai pakaian yang sopan
5. Tugas di kirim ke email muhammadbunyamin67@gmail.com , sertakan nama lengkap dan kelas
6. Tugas paling lambat di kirim minggu dpn sesuai jadwal pelajaran Penjas .

Senin, 16 Maret 2020

Pengertian Senam Irama

Ada yang mengatakan kalau senam aerobik, senam manula, senam ibu hamil, senam SKJ atau sejenisnya yang menggunakan musik sebagai panduan gerak sebagai senam irama.
Apakah kamu salah satunya? :D
Barangkali ada benarnya karena senam-senam semacam itu memang mengandalkan irama musik sebagai panduan gerak. Akan tetapi senam irama atau senam ritmik yang akan dibahas disini sangat berlainan dari senam-senam tersebut.
Senam irama atau senam ritmik adalah salah satu cabang senam artistik dimana seorang atlet atau sekelompok atlet senam mempertunjukkan koreografinya yang kental dengan nuansa akrobatik, balet dan tari modern dengan atau tanpa alat bantu senam yang berupa bola (ball), pita (ribbon), tali (rope), gada (club), dan simpai (hoop).
Senam irama ini merupakan senam yang dipertandingkan dalam olimpiade dan pertandingan senam irama internasional, sementara itu senam aerobik misalnya, merupakan senam yang dilakukan untuk sekedar menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh dimana dalam senam ini sekelompok peserta melakukan gerakan senam dengan dipandu oleh seorang pemandu senam.
Sejauh ini senam irama hanya dilakukan/diperuntukkan oleh kaum hawa. Namun akhirnya Jepang mulai mempelopori untuk menciptakan nomor putra dalam senam irama meski hal ini masih berlaku di kalangan Jepang saja.
Kenapa senam ini didominasi oleh kaum hawa?
Pertama-tama karena senam ini dilahirkan di Eropa oleh beberapa pakar yang justru merupakan pakar di bidang seni.
Dalam perkembangannya, senam irama sangat banyak mengadopsi gerakan balet dan waktu itu tari balet ini juga identik dimiliki oleh kaum hawa.
Hal ini berlangsung turun-temurun sehingga senam irama yang awalnya memang dilakukan oleh kaum hawa, menjadi identik sebagai kegiatan olah raga kaum hawa dan sampai sekarang telah menjadi tradisi yang demikian.

Sejarah Senam Irama

sejarah senam irama
via pinterest.com
Sejarah senam irama bermula dari gagasan Jean-Georges Noverre (1727-1810), Francois Delsarte (1811-1871), dan Rudolf Bode (1881-1970).
Ketiganya percaya atas pentingnya ekspresi gerak dimana seseorang menggunakan tubuhnya untuk mencipta keindahan melalui rangkaian gerak tertentu.
Gagasan tersebut kemudian dikembangkan oleh Peter Henry Ling pada abad ke 19 dalam suatu sistem latihan yang disebut sebagai Swedish system (sistem Swedia) dari gerakan bebas yang kemudian dipromosikan sebagai “gymnastik estetis” yang mana seorang atlet mengekspresikan dirinya, emosi dan perasaannya melalui pergerakan tubuh.
Ide tersebut kemudian dikembangkan lagi oleh Catharine Beecher, pendiri Western Female Institute di Ohio, Amerika Serikat pada tahun 1837.
Dalam program latihan yang diciptakan Beecher ini, yang dikenal dengan istilah “grace without dancing”, pesenam perempuan berlatih dengan menggunakan musik mulai dari gerakan sederhana menuju gerakan kompleks.
Semenjak itu mulai bermunculan para pelopor gagasan mengenai tubuh, ekspresi tubuh, gerak dan musik dengan berbagai jenis gaya.
Kemudian pada tahun 1900, semua jenis gaya tersebut dikombinasikan di sekolah Gymnastics Rhytmic Swedia dan setelahnya banyak juga sekolah-sekolah gymnastik yang mengembangkan hal serupa.
Pada tahun 1929, Hinrich Medau mendirikan sekolah di Berlin dan menciptakan gagasan gymnastik modern yang memiliki perbedaan mendasar dari gaya-gaya sebelumnya, yakni Medau menciptakan suatu sistem gerak senam artistik dengan menggunakan alat (bola, pita, tali, gada, dan simpai) sehingga senam ini mulai terlihat berbeda dengan pertunjukan balet kontemporer, tari atau akrobat.
Kompetisi senam irama dimulai pada tahun 1940 di Rusia.
FIG sendiri kemudian memasukkan senam irama sebagai salah satu cabang senam pada tahun 1961.
Mula-mula senam ini bernama modern gimnastik, lalu berubah menjadi olahraga gimnastik ritmis, dan terakhir berubah menjadi senam irama atau gimnastik ritmis.
Pertandingan internasioal pertama kali dalam cabang ini untuk atlet individual dimulai di Budapest pada tahun 1963, sementara pertandingan grup mulai ada pada kompetisi di Copenhagen, Denmark pada tahun 1967.
Senam ritmik mulai diadakan dalam olimpiade di tahun 1984 di Los Angles untuk kelas individu. Lalu untuk pertandingan kelompok mulai masuk pada tahun 1996 di Olimpiade Atlanta.

Jumat, 06 Maret 2020

Pengertian Senam Lantai

Ada berbagai jenis senam yang saat ini dikembangkan dan dilakukan di dalam masyarakat sebagai salah satu olah raga yang paling sering dilakukan baik sendiri ataupun bersama-sama seperti misalnya senam aerobik, senam pramuka, senam ibu hamil, senam lansia, senam SKJ, dan lain sebagainya.
Namun ada juga senam yang tidak bisa sembarangan dilakukan oleh orang karena senam ini membutuhkan ketrampilan tubuh yang ekstrim, yakni senam artistik.
Senam artistik terbagi menjadi dua kategori, yakni senam artistik dengan menggunakan alat (meja lompat, palang bertingkat, balok keseimbangan, gelang-gelang, kuda pelana, palang sejajar dan palang tunggal) dan senam artistik tanpa menggunakan alat atau disebut juga sebagai senam lantai.
Secara sederhana senam lantai adalah salah satu jenis senam artistik yang memadukan berbagai bentuk keterampilan tubuh yang menonjolkan keindahan gerak, kerumitan gerak, kekuatan gerak, keluwesan gerak, keseimbangan dan kelenturan gerak untuk dipertunjukkan dalam lapangan senam lantai.
Pertandingan senam lantai ini justru malah mirip seperti pertunjukan dan oleh karenanya senam lantai disebut juga sebagai senam artistik karena keindahan gerak juga diperhitungkan oleh juri.
Seorang atlet senam lantai bebas meramu berbagai macam gerak tubuh seperti meroda, melenting, roll, jatuhan, salto, dan lain sebagainya dengan berbagai gaya dan ekspresi.
Dengan kata lain, gerakan dalam senam lantai bisa dibilang tak terbatas (unlimited exploration) sejauh atlet melakukan performanya tanpa bantuan alat.
Oleh karena itulah atlet senam lantai harus banyak melatih tubuhnya dengan berbagai jenis latihan tubuh dari berbagai disiplin yang bahkan merambah ke wilayah tari balet, tari jalanan (dance street) dan gerakan-gerakan akrobat.

Istilah Senam Lantai

istilah senam lantai
via youtube.com
Di sebut sebagai senam lantai karena pada waktu melakukannya, atlet hanya menggunakan lantai sebagai media geraknya tanpa bantuan alat apapun untuk menciptakan gerak kecuali pakaian yang nyaman untuk bergerak dan matras yang berfungsi hanya sebagai pengaman, bukan sebagai alat.
Istilah senam lantai hadir karena salah satu sebabnya adalah aktivitas dalam olahraga senam lantai membutuhkan ketrampilan-ketrampilan dasar olah tubuh yang dilakukan di atas permukaan lantai (baca: permukaan datar yang terbuat dari bahan apapun) seperti misalnya pemanasan, peregangan, dan pelenturan.

Penemu Senam Lantai

penemu senam lantai
via twitter.com
Senam lantai merupakan olah raga yang sudah ada sejak zaman dahulu kala sehingga sulit untuk memastikan siapa penemunya.
Namun setidaknya, ada beberapa tokoh penting dalam senam lantai yang menyumbangkan pemikirannya dalam suatu metodologi senam lantai seperti Archange Tuccaro (1536-1616) yang merupakan pemain akrobat dari Italia.
Archange Tuccaro telah menulis buku setebal 400 halaman yang berjudul “Arial Jumps”, yakni buku tentang metodologi suatu akrobatik yang bisa dipraktekkan untuk berbagai kepentingan dan diadopsi oleh banyak atlet untuk mengolah tubuhnya. Melalui buku itulah, Tuccaro menjadi seorang bapak metodologi gymnastic.
Sementara itu, senam lantai yang berkembang saat ini menggunakan gerakan-gerakan akrobatik sebagai gerakan mayor.
Namun demikian, senam artistik modern sebagai suatu disiplin individu seorang atlet mula-mula dikembangkan di Jerman dan dipelopori oleh Adolf Spiess (1810-1858) dan Justus Carl Lion (1829-1901).
Seterusnya, senam artistik ini merupakan praktik individual dimana seorang atlet akan terus berjuang untuk mengolah dan menembus batas-batas tubuhnya untuk dipertunjukkan sekaligus dipertandingkan dalam pertandingan senam lantai.
Dengan demikian, sekali lagi, sukar untuk menentukan siapa penemu senam lantai sejauh senam tersebut merupakan suatu praktek individu seorang atlet dalam meramu gerakan senamnya dari beragam sumber dan disiplin tubuh.

XII IPA 2

  Nama guru : Muhammad Yusuf S.Pd Mapel : Penjaskes  Hari / tanggal : Selasa, 08 September 2026 Kelas : XII IPA dan IPS Materi : Permainan B...